Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada Budidaya Paprika 3 June 2008

sayuran sumatera barat

Ini adalah kemitraan HPSP lain yang dikelola oleh Koperasi Petani Mitra Sukamaju bersama dengan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, CV ASB Farn, CV ABC, PT Joro, Bank Indonesia Bandung. Berlokasi di Desa Pasirlangu, Kec. Cisarua, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat,tujuan kemitraan ini a.l.:

  1. Menyusun rakitan teknologi PHT yang secara teknis dapat dilakukan dan secara ekonomis menguntungkan
  2. Mengetahui musuh alami introduksi yang paling efektif mengendalikan populasi trips dan dapat beradaptasi di Indonesia serta aman digunakan sehingga dapat diperoleh ijin impor
  3. Menguji kelayakan teknis dan ekonomis teknologi PHT pada budidaya paprika
  4. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan petani (dan khususnya kaum wanita) dalam menerapkan teknologi PHT
  5. Penelitian sesuai tentuan dari Komisi Agensia Hayati maka kami akan mendapatkan ijin impor musuh alami supaya predator dapat di impor dengan jumlah sesuai kebutuhan petani
  6. Menyebarluaskan hasil penerapan PHT pada petani paprika
  7. Meningkatkan kerja sama kemitraan antara petani, pengusaha, dan Balai Penelitian untuk mempertahankan pasar lokal dan memperluas pasar ekspor
  8. Meraih peluang pasar yang terbuka dan memperluas pasar lokal dan ekspor agar pendapatan petani dan pedagang meningkat

Kegiatan yang dilakukan yang didukung HPSP untuk memenuhkan tujuan di atas antara lain: 

  • Inventarisasi teknologi PHT pada budidaya paprika
  • Penelitian: Pengujian keefektifan A. swirskii dan O. laevigatus terhadap hama T. parvispinus pada tanaman paprika.
  • Aplikasi lapangan:
  • Penerapan teknologi PHT (pelepasan predator, pengasapan sulfur, pemasangan perangkap OPT, penerapan ambang pengendalian, penggunaan pestisida selektif) yang dilaksanakan di rumah plastik metal kayu
  • Penerapan teknologi PHT (pelepasan predator, pengasapan sulfur, pemasangan perangkap OPT, penerapan ambang pengendalian, penggunaan pestisida selektif) yang dilaksanakan di rumah plastik bambu
  • Teknologi konvensional (berdasarkan kebiasaan petani) yang dilaksanakan di rumah plastik bambu
  • Pelatihan PHT
  • Diseminasi (temu lapangan)

Kurikulum pelatihan terdiri atas 20% teori dan 80% praktek, yang meliputi:

  1. Analisis agroekosistem
  2. Budidaya paprika sesuai dengan prinsip ”Good Agricultural Practice”
  3. Mengenal OPT dan musuh alaminya
  4. Ambang ekonomi dan pengambil keputusan pengendalian OPT
  5. Pengamatan OPT
  6. Membandingkan budidaya paprika yang dikelola secara konvensional dan secara PHT
  7. Dinamika kelompok
  8. Topik khusus.

Hasil-hasil yang diharapkan tercapai dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah:

  • Situasi kelompok-kelompok sasaran
  • Kegiatan tersebut di atas diharapkan akan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam menerapkan teknologi PHT yang pada akhirnya dapat menghasilkan produk paprika yang berkualitas sesuai dengan standar ekspor.
  • Kapasitas teknis dan manajemen dari kelompok-kelompok sasaran
  • Petani akan mampu menerapkan teknologi PHT di lahannya sendiri
  • Petani akan mampu bekerjasama dalam kemitraan
  • Eksportir akan mampu memenuhi kuota dan produk yang berkualitas
  • Balai Penelitian akan memperoleh informasi terbaru mengenai kelayakan teknologi PHT.
  • Perbankan akan memperoleh kepastian kelancaran kredit oleh petani.

Efek Berganda

  1. Secara bertahap, petani Pasirlangu anggota koperasi MSM mampu memproduksi paprika yang semakin berkualitas sehingga mudah dijual. Hal ini dibuktikan dengan adanya kemitraan dengan ekportir Emerald untuk menjual hasil panen paprika ke Singapura.
  2. Nama baik industri Hortikultura Indonesia akan meningkat karena sudah ada upaya untuk memproduksi dengan cara ramah lingkunan dan aman untuk di konsumsi. Dengan semakin banyaknya penerapan sistem PHT, makin banyak perusahaan dan instansi yang tertarik berinvestasi di bidang produksi agensia hayati lokal.
  3. Eksportir dapat meningkatkan pasar ekspor ke negara-negara lain selain ke Singapura.
  4. Balitsa akan dipacu untuk menghasilkan teknologi-teknologi PHT.
  5. Para wanita tani akan lebih banyak berperan dalam sistem budidaya paprika. Dengan tingkat ketelitian mereka, populasi trips dapat dikontrol sehingga usahatani paprika secara ekonomis lebih menguntungkan karena berkurangnya penggunaan pestisida kimia. Para wanita tani juga sudah mulai menerapkan pengamatan sebelum melakukan penyemprotan.
  6. Supplier benih (PT Joro dan East-West) dapat melanjutkan dan meningkatkan supply benih ke banyak petani.
  7. Perbankan dapat meningkatkan pemberian kredit kepada usaha budidaya paprika.
  8. Fasilitator dari Balitsa diminta untuk melatih staf Kusuma Agrowisata di Malang dalam budidaya paprika berdasarkan konsepsi PHT pada tanggal 7-8 Januari 2008.

Dampak jangka pendek dan jangka panjang

  • Aspek finansial: Pendapatan petani dan eksportir meningkat, sehingga pengembalian kredit lancar. Ancaman megurangi produksi karena sulitnya menjual produk dengan residu tinggi dapat di berhentikan.
  • Aspek kesehatan produsen: Untuk jangka panjang jika penggunaan pestisida kimia dapat dikurangi, maka kesehatan petani paprika akan lebih baik karena akan berkurang terkena paparan pestisida secara langsung.
  • Aspek kesehatan konsumen: Dengan kandungan residu pestisida yang rendah pada buah paprika, maka kesehatan konsumen dari bahaya keracunan pestisida akan dapat dikurangi.
  • Aspek lingkungan: Pengurangan penyemprotan dengan pestisida kimia akan berpengaruh positif bagi lingkunan di sekitar kebun. Musuh alami lokal tidak akan mati dan akan bermanfaat bagi petani. Introduksi musuh alami dari luar negeri (Belanda) akan memperkuat sistem PHT yang telah ada dan dampaknya terhadap lingkungan tidak ada karena musuh alami tersebut hanya memangsa trips, dan setelah tripnya habis maka musuh alami tersebut akan mati. Hal ini telah dibuktikan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Balitsa dan PT Joro, bahwa musuh alami tersebut aman terhadap lingkungan. Lebih lanjut dilaporkan bahwa pada hasil penelitian PT Joro di Jawa Timur, setelah penelitian musuh alami selesai, Badan Karantina tidak menemukan keberadaan musuh alami tersebut di luar rumah kasa. Hal ini membuktikan bahwa musuh alami tersebut aman karena mangsanya yaitu trips sudah habis. Namun demikian, untuk membuktikan keamanan dari kedua musuh alami tersebut pada penelitian ini akan diawasi dan dipantau oleh Komisi Agens Hayati dan badan Karantina, dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh kedua institusi tersebut. Untuk dapat mengimpor musuh alami tersebut kami akan bekerjasama dengan PT Joro yang telah memiliki ijin impor untuk penelitian dari Menteri Pertanian (Nomor 731/Kpts/PD.540/12/2006).
  • Aspek ketenagakerjaan: Dengan semakin berkembangnya usahatani paprika yang menguntungkan, maka akan banyak tenaga kerja di pedesaan dapat terserap. Khusus untuk kaum wanita akan ada perang yang lebih besar.
  • Tingkat institusional: Petani dan pedagang dapat melakukan kerjasama yang saling menguntungkan.
  • Tingkat kebijakan: Arah pengembangan teknologi budidaya harus berdasarkan konsepsi PHT. Ijin impor musuh alami sesuai ketetapan Komisi Agens Hayati dapat dikeluarkan.

Hasil-hasil yang telah dicapai sampai saat ini:

  • Petani sudah dapat melakukan identifikasi hama dan penyakit yang menyerang tanaman paprikanya, sehingga penyemprotan pestisida tidak terjadwal lagi.
  • Sebagian petani mulai menerapkan teknologi PHT di lahannya sendiri seperti water treatment dengan menggunakan kaporit.
  • Petani yang tergabung dalam Koperasi MSM telah menjalin kemitraan dengan ekportir Emerald untuk mengimpor paprika ke Singapura dengan kuota 2-4 ton/minggu.
  • Balitsa memperoleh informasi baru mengenai serangan virus pada tanaman paprika.
  • Ada tawaran kredit dari Bank Artagraha dan Bank Jabar untuk Kluster paprika bagi petani anggota Koperasi MSM.

Publikasi

Seluruh kegiatan dan informasi teknis dalam proyek ini akan disusun dalam sebuah buku panduan sehingga dapat digunakan oleh orang lain. Sedangkan hasil-hasil dari proyek ini akan dipublikasikan melalui jurnal dan dipublikasikan melalui website agar dapat diakses oleh publik. Materi pelatihan budidaya paprika yang disusun oleh Tim Balitsa dapat diakses dan tersedia di sekretariat pelatihan di Koperasi MSM Pasirlangu.

Hal lain yang dicapai:

  • Rumah kasa model kayu besi telah dibangun di tempat pelatihan.
  • Instalasi pengairan dengan menggunakan irigasi tetes telah dipasang.
  • Irigasi tetes menggunakan sistem gravitasi.
  • Penyemprotan pestisida berdasarkan hasil pengamatan OPT

Kemitraan masih menghadapi tantangan di mana pada pertanaman paprika di lahan pelatihan dan di lahan petani dijumpai serangan virus yang cukup serius. Jenis dan sumber penularannya belum diketahui. Untuk menanganinya telah diundang ahli virus dari Balitsa (Prof. Dr. Ati Srie Duriat) sebagai nara sumber dalam pelatihan dan saran beliau adalah tanaman yang terserang dikeluarkan atau dimusnahkan. Beliau juga membawa beberapa tanaman yang terserang untuk diidentifikasi di Balitsa.

Sumber : http://hortipart.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: